Korban yang Tewas "Dihidupkan" Kembali dengan AI, Pembunuhnya Jalani Hukuman Ulang

 


Seorang pria yang dihukum karena membunuh seorang pengendara dalam insiden kemarahan di jalan raya di Arizona, Amerika Serikat (AS), akan menjalani penjatuhan hukuman ulang. Penjatuhan hukuman ulang itu dilakukan setelah Pengadilan Banding Arizona memutuskan bahwa video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan menampilkan korban yang telah meninggal seharusnya tidak diputar dalam proses penjatuhan hukuman. Gabriel Paul Horcasitas (55) sebelumnya dijatuhi hukuman 10 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah menembak dan membunuh Christopher Pelkey (37) dalam konfrontasi di sebuah lampu merah pada 2021. Tim kuasa hukum Horcasitas kemudian mengajukan banding dan mempersoalkan keputusan hakim yang mengizinkan keluarga Pelkey memutar video AI tersebut di pengadilan.

Pengadilan Banding Arizona mengabulkan permohonan tersebut dan memutuskan Horcasitas harus menjalani sidang penjatuhan hukuman ulang. Namun, putusan tersebut tidak mengubah vonis bersalah yang telah dijatuhkan kepadanya.

Menurut pengadilan, video tersebut telah "melampaui batas". "Alih-alih mendokumentasikan suatu peristiwa atau merekam momen tertentu, video AI tersebut menyajikan gambaran tentang korban dan pikirannya yang diciptakan dari imajinasi saudara perempuan korban," tulis pengadilan banding, dilansir dari BBC, Sabtu (3/10/2026).

Keluarga Pelkey gunakan video AI Dikutip dari Mothership, Minggu (4/10/2026), keluarga Pelkey menggunakan rekaman suara, video, dan foto untuk membuat rekonstruksi digital korban menggunakan teknologi AI. Saudara perempuan Pelkey, Stacey Wales, mengatakan pada 2025 bahwa keluarga mengumpulkan berbagai rekaman dan foto untuk menciptakan versi AI dari saudara laki-lakinya. Rekonstruksi tersebut kemudian diputar menjelang vonis terhadap Horcasitas pada 2025. Dalam video itu, sosok Pelkey yang dibuat menggunakan AI berbicara langsung kepada Horcasitas, pria yang menembaknya. Versi digital Pelkey menyampaikan penyesalan atas pertemuan keduanya dan mengatakan bahwa mereka mungkin saja menjadi teman dalam keadaan yang berbeda. "Kepada Gabriel Horcasitas, pria yang menembakku, sungguh disayangkan kita bertemu pada hari itu dalam keadaan seperti itu. Di kehidupan lain, kita mungkin bisa berteman," kata versi AI Pelkey di pengadilan pada 2025.

Rekonstruksi digital tersebut kemudian berbicara mengenai pengampunan dan kepercayaan kepada Tuhan.

"Saya percaya pada pengampunan, dan Tuhan yang Maha Pengampun. Saya selalu percaya dan masih percaya," lanjut versi AI Pelkey yang mengenakan topi baseball abu-abu. Penggunaan video tersebut mendapat tanggapan positif dari hakim yang mengawasi kasus tersebut, Todd Lang. "Saya menyukai AI itu, terima kasih untuk itu. Sekeras apa pun kemarahan Anda, dan sekeras apa pun kemarahan keluarga, saya mendengar pengampunan itu," kata Lang. "Saya merasa itu tulus," lanjutnya.

Gabung Shopee Affilate

Namun, pengacara Horcasitas kemudian mempersoalkan penggunaan video tersebut dalam proses penjatuhan hukuman.

Pengadilan banding nilai video AI melampaui batas Pengadilan Banding Arizona akhirnya sepakat bahwa video tersebut telah "melampaui batas". Pengadilan menilai video itu bukan dokumentasi dari peristiwa yang benar-benar terjadi dan tidak merekam pernyataan yang pernah disampaikan Pelkey semasa hidupnya.

Sebaliknya, video tersebut menciptakan gambaran mengenai korban sekaligus mengaitkan sejumlah pemikiran kepadanya berdasarkan imajinasi saudara perempuannya. Meski demikian, putusan pengadilan banding tidak membatalkan vonis bersalah terhadap Horcasitas atas pembunuhan Pelkey. Horcasitas hanya akan menjalani sidang penjatuhan hukuman ulang. Putusan juri yang sebelumnya menyatakan dirinya bersalah tetap berlaku.

SPREI KINTAKUN DELUXE 120 T25 ARTHA